Datang (Untuk Dikenang – Part 1/5)

hasil testpack positif pertama

Foto hasil tespack positif pertama

Sedikit cerita tentang perjuangan menjadi orangtua…

Setiap pasangan yang sudah menikah, pasti menginginkan kehadiran buah hati, begitu juga saya dan suami. Kami menikah di bulan Maret 2017. Meski awalnya ragu karena kami belum tinggal bersama, alias masih LDR dan bertemu hanya 1-2x dalam sebulan, tetapi kami tetap berusaha untuk tidak menunda dalam memiliki momongan. Prinsip kami ya mengalir saja, tidak terlalu ngotot sampai ikut program hamil di dokter, pokoknya terserah Allah yang Maha Pemberi Rezeki. Bulan berganti bulan, memang belum ada tanda-tanda kehamilan, tetapi kami tetap santai, menikmati masa-masa pacaran pasca menikah, berdoa dan berikhtiar semampu kami.

Kemudian di bulan November 2017, saya merasakan beberapa tanda-tanda kehamilan, seperti terlambat haid, perut bagian bawah terasa nyeri, payudara terasa kencang, sensitif terhadap bau, dan sesekali mual-mual ringan. Meskipun saya sudah merasakan tanda-tanda kehamilan, tetapi ketika saya mencoba tespack, hasilnya masih satu garis, alias negatif. Saya masih bersabar dan menunggu 1 minggu lagi untuk testpack. Kali ini saya cukup yakin hasilnya positif, dan Alhamdulillah, hasilnya positif. Seketika saya langsung memberitahu suami yang jauh di sana, sujud syukur dan menangis bahagia karena sebentar lagi saya akan menikmati proses menjadi seorang Ibu.

Tiga hari setelah testpack, saya pergi ke bidan sedirian, saya diberi buku catatan kehamilan dan memang dinyatakan hamil 5 minggu, dengan Hari Perkiraan Lahir (HPL)  27 Juli, berdasarkan perhitungan Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT) saya, yaitu 21 Oktober 2017. Seminggu kemudian ketika suami saya pulang, kami langsung pergi ke Dokter untuk pemeriksaan USG pertama, untuk melihat kondisi rahim saya. Saat di USG, dokter mengatakan selamat, dan beliau bilang usia kandungan saya sudah 6 minggu. Kami berdua pulang dengan perasaan bahagia.

Selama hamil, saya mengurangi aktifitas sehari-hari, tidak begadang, dan mengurangi intensitas mengendarai sepeda motor. Selain itu, saya juga mengkonsumsi obat penguat kandungan dan asam folat sesuai resep dokter, dan mengkonsumsi makanan bergizi serta memperbanyak minum air putih untuk menunjang kesehatan saya dan janin.

Saya mulai membaca buku-buku dan artikel tentang kehamilan, parenting, dan bersemangat memberikan nutrisi-nutrisi rohani setiap hari, seperti membiasakan diri membaca surat-surat pilihan setelah mengaji, dan memperbanyak mendengarkan Murottal. Pokoknya, saya sangat bersemangat, karena saya percaya, perkembangan otak setiap manusia dapat dibentuk sejak dalam kandungan, melalui rangsangan-rangsangan hal-hal positif yang diberikan oleh orangtuanya, khususnya Ibunya.

Sebulan kemudian, setelah menikmati hari-hari yang penuh optimisme dan perjuangan, dari mual, muntah, lemas, terkadang juga sesak nafas, akhirnya tibalah saat suami saya pulang dan kami kontrol kandungan lagi ke dokter. Karena merasa dokter pertama kurang detail dalam menyampaikan informasi, akhirnya kami memutuskan untuk berganti dokter sesuai rekomendasi dari teman saya. Kami bersemangat untuk mengetahui perkembangan buah hati kami.

Ketika kami berkonsultasi dengan dokter ke-2, kami cukup puas, karena dokter tersebut cukup humble dan informatif. Setelah melihat buku catatan kehamilan, dokter berkesimpulan janin saya sudah berusia 10 minggu, terhitung dari HPHT saya. Kemudian untuk memastikan kondisinya, dokter juga melakukan USG. Ketika proses USG, dokter ke-2 membutuhkan waktu lebih lama untuk melihat kondisi rahim dan janin saya, sesekali keningnya berkerut, dan berkali-kali melakukan zoom-in di gambar janin saya di layar USG. Selang beberapa menit, akhirnya dokter mengatakan bahwa janin saya belum terdengar detak jantungnya dan ukurannya terlalu kecil untuk usia 10 minggu. Di usia 10 minggu, seharusnya janin sudah berukuran lebih dari 2 cm, tetapi ukuran janin saya masih terlalu kecil, seperti usia 7 minggu. Saat itu, rasanya seperti tersambar petir di siang bolong.

Dokter ke-2 menyatakan bahwa ada kemungkinan janin saya tidak berkembang sejak usia 7 minggu. Tetapi karena saya tidak ada flek dan tanda-tanda keguguran, dokter menyarankan agar seminggu lagi saya kontrol dan dokter akan melakukan USG Transvaginal, yaitu pemeriksaan USG melalui lubang V, agar hasilnya lebih akurat. Meskipun dokter seakan-akan memberi harapan, tetapi saya dan suami sangat terpukul. Sepanjang perjalanan pulang, kami diam saja, tidak saling bicara, hanya mengira-ngira dalam hati masing-masing saja. Astaghfirullah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s