Berharap (Untuk Dikenang – Part 2/5)

P_20171103_140224-01

Sepulang dari dokter ke-2, saya dan suami masih shock. Kami masih saling diam, berkutat dengan pikiran masing-masing. Sesampainya di rumah, kami mencoba istirahat untuk menetralkan pikiran, tapi tetap tidak bisa, bahkan untuk memejamkan mata saja sangat sulit. Berkali-kali saya menahan tangis dan akhirnya pecah juga ketika selesai sholat. Rasanya masih ingin berharap, dan memohon agar ada keajaiban datang kepada kami. Jujur saja, pikiran kami masih kacau saat itu.

Berkali-kali saya mencoba introspeksi diri. Kesalahan apa yang sudah saya lakukan? Saya merasa sehat, tekanan darah selama kontrol juga normal-normal saja, tidak ada keluhan, tidak ada flek bahkan pendarahan atau tanda-tanda keguguran yang lainnya. Saya makin menyalahkan diri sendiri. Apakah makanan saya kurang bergizi? Tapi melihat orang lain bahkan bisa bertahan meskipun mereka sulit makan ketika hamil.

Meski tidak diungkapkan, pikiran suami saya juga pasti sedang kacau. Dia mengigau berkali-kali ketika tidur, dan itu membuat saya semakin menangis. 😥 Pasti sangat berat baginya, salah satunya karena dia harus meninggalkan saya lagi dalam beberapa hari, padahal kami sedang kalut.

Berkali-kali saya berfikir bagaimana agar kami berdua merasa sedikit tenang. Akhirnya saya mengajak suami untuk mencari second opinion dari dokter yang lain. Sore harinya, kami berdua pergi ke dokter keluarga untuk kosultasi. Lalu dokter keluarga saya menyarankan kami untuk pergi ke dokter ke-3, di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) yang lumayan dekat dengan rumah saya. Tapi beliau menyarankan agar kami tidak usah membawa buku catatan kehamilan, beliau menyarankan agar kami kesana dan berpura-pura belum tahu kondisi janin kami, tujuannya agar kami dapat argumen baru tanpa terpengaruh dari argumen dokter ke-2.

Keesokan paginya, kami pergi ke RSIA. Bismillah… Kami berdoa semoga ada harapan bagi janin kami. Setelah dokter ke-3 mendiagnosa hasil USG, beliau menaksir janin saya baru berusia 8 minggu, kemungkinan karena beliau mengacu pada ukuran janin yang saat itu tertera 1.95cm di layar USG. dan ukuran tersebut dirasa masih masuk usia 8 minggu. Tetapi dicoba beberapa kali, detak jantung janin belum juga terdengar. Lalu dokter menyarankan agar 2 minggu lagi kami kontrol kembali untuk melihat kondisi janin.

Saat itu, kami merasa masih bisa berharap. Berharap 2 minggu lagi janin saya berkembang dan mulai muncul detak jantungnya.

Tetapi tetap saja, semua kembali kepada keputusanNya. Meski berharap, saya detik itu juga mencoba pasrah dengan kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s