Kehilangan (Untuk Dikenang – Part 3/5)

Dua minggu setelah kontrol kehamilan, saya semakin berusaha menjaga kesehatan. Makan-makanan bergizi dan mengonsumsi susu hamil, suplemen kandungan, juga beristirahat yang cukup. Saya masih mencoba berharap, dan berdoa merayu-rayu Allah, agar dua minggu lagi saat saya kontrol, detak jantung janin saya mulai terdeteksi.

Saya juga mulai mencari informasi dari sanak saudara tentang perkembangan janin pada umumnya. Beberapa orang mengatakan bahwa detak jantung janin terkadang memang belum terdengar di usia kandungan yang masih muda. Bahkan kakak saya bilang, ada seorang teman yang janinnya baru bisa terdengar detak jantungnya di usia 14 minggu.

Selain itu, saya juga tetap mempersiapkan diri dengan kemungkinan terburuk. Saya mulai bertanya tentang proses kuretase kepada saudara dan teman yang pernah mengalami. Saya membaca artikel-artikel tentang prosedur dan proses kuretase di internet. Karena saya percaya, jika saya memahami prosedurnya lebih dulu, insyaAllah saya akan siap menjalaninya, terutama untuk kesiapan mental saya.

Terkadang saya mulai optimis tentang kondisi janin saya yang mungkin akan membaik, tapi entah mengapa di hati kecil saya juga masih ada kekhawatiran. Akhirnya semuanya saya kembalikan lagi Kepada-Nya. Jika memang janin ini rezeki saya, saya akan berusaha menjaga dan memperjuangkannya sampai akhir. Tetapi jika memang Allah mentakdirkan bahwa janin ini belum mejadi rezeki saya, InsyaAllah saya sudah pasrah dan ikhlas dengan segala kemungkinan yang terjadi.

Dua minggu berlalu, tibalah tanggal 18 Januari 2017, jadwal kontrol kehamilan. Saya sudah menguatkan hati dan saya bertekad tidak ingin memperlihatkan tangis di depan semua anggota keluarga saya. Apapun hasilnya, saya harus kuat dan tetap tersenyum. Hari itu saya diantar adik ke Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA). Alhamdulillah tidak terlalu lama menunggu, saya pun mulai dipanggil ke ruangan dokter.

Ketika di USG, saya terus melihat ke layar monitor. Terlihat jelas gambar kantung rahim dan janin saya di sana. Tapi ada yang berbeda, saya melihat janin saya berubah bentuk, tidak seperti 2 minggu yang lalu. Kemudian saya melihat keterangan panjang janin, di situ tertera 1,38cm. Detik itu juga, saya tahu bahwa janin saya memang tidak berkembang, karena 2 minggu yang lalu ukurannya adalah 1,95cm. Dokter juga cukup lama mengevaluasi, berusaha mencari-cari detak jantungnya dan mengeraskan volume speaker alat USG nya. Entah mengapa saya sudah yakin bahwa janin saya sudah tidak berkembang sebelum dokter menyatakan kesimpulannya. Sesaat kemudian, dengan berat hati, dokter pun menjelaskan hasil USG nya pada saya.

P_20180130_100948 copy

Hasil pemeriksaan oleh Dokter – Missed Abortion

“Ibu, janin ibu masih tidak terdengar detak jantungnya. Ukurannya juga terlhat semakin mengecil, jadi ini Missed Abortion. Berarti harus segera diakhiri karena janin sudah tidak berkembang lagi.” Kata Dokter.

“Hmm… Gitu ya Dok, jadi harus di kuret Dok? Lalu kapan Dok?” Saya mulai bertanya kepada beliau.

“Iya, sebaiknya segera diakhiri, secepatnya” Jawab dokter.

“Hmm… Batas waktunya sampai kapan ya Dok? Kalau dua minggu lagi masih bisa kah? Karena suami saya jauh.” Saya mencoba mengulur waktu, karena suami saya baru bisa cuti 2 minggu lagi.

“Dua minggu ya sudah terlalu lama itu, malah saya menyarankan sekarang juga, atau masuk besok pagi.” Jawabnya.

“Memang prosedurnya bagaimana Dok?” Tanya saya lagi.

“Jadi nanti ibu langsung ke IGD, nanti di sana langsung di beri obat, lalu antara 6-12 jam baru dilakukan tindakan kuretase ketika mulut rahim sudah terbuka. Karena cepat atau lambat akan terjadi pendarahan dengan sendirinya, dan ketika ibu menunggu sampai terjadi pendarahan, itu nanti lebih sakit.” Dokter mencoba menjelaskan kepada saya yang mulai tawar menawar mengenai jadwal kuret.

“Ok Dok, nanti saya diskusi dulu dengan suami… Oiya… Pakai BPJS bisa kan dok?” Tanya saya lagi.

“O… Bisa… Bisa…” Jawab dokter.

Kemudian saya keluar ruangan setelah mengucapkan terima kasih kepada Dokter dan Perawat di ruangan. Apakah saya ingin menangis saat itu? Jelas. Tapi saya menahan diri agar tidak menangis dan menahan agar suara saya tidak bergetar.

Setelah menyelesaikan pembayaran, saya langsung menanyakan prosedur Kuretase dengan BPJS di resepsionis.

Setelah itu saya pulang ke rumah, dan berencana langsung menelepon Suami saya untuk menjelaskan semuanya. Dia juga pasti menunggu saya dengan kekhawatiran yang luar biasa.

Sesampainya di rumah, tetap saja tangis saya pecah ketika orangtua saya menanyakan hasil pemeriksaan. Begitu juga dengan adik saya. Dia pun ikut menangis…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s