Belilah Sesuatu disaat Kamu Mampu, Bukan disaat Kamu Mau

Entah kenapa tiba-tiba saya ingin menulis, setelah sekian lama hibernasi 😁

Semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat untuk saya dan suami, kalau-kalau suatu saat nanti kami goyah dalam memegang prinsip saat menjalani hidup.

Sejak sebelum menikah, saya berusaha memegang prinsip Anti Riba. Saya memang belum bisa lepas dari Bank Konvensional dalam menabung dan bertransaksi, tetapi setidaknya saya berusaha tidak memakan bunga bank dan terjerat praktik riba di kehidupan saya.

Saya berusaha memegang erat prinsip tersebut karena saya tahu, Riba sangat dilarang dalam Islam. Aturan dan ancamannya sangat jelas dalam Al Qur’an dan Hadist. Disamping itu saya juga belajar dari realita yang ada, dengan melihat dan mendengar pengalaman-pengalaman orang terdekat saya yang hidupnya semakin rumit ketika terjerat Riba.

Saya pernah membaca sebuah hadist di sebuah artikel, dalam hadist HR. Thabrani, Rasulullah pernah bersabda bahwa riba ada 73 pintu, dan yang paling ringan dosanya diibaratkan seperti berzina dengan ibu kandung sendiri. Naudzubillah…

Lalu di sebuah ceramah Ustadz Adi Hidayat, dikatakan bahwa di dalam Al Qur’an surat Al Baqarah disebutkan, orang yang melakukan praktik riba itu seperti kerasukan setan, bukan hanya mengikuti setan, tetapi setan tersebut masuk ke dalam dirinya. Padahal setan adalah musuh kita yang sangat nyata.

Dalam urusan berbisnis, saya juga selalu menekankan kepada diri sendiri dan partner saya, jangan pernah memulai usaha dengan berhutang di Bank. Kita tahu bahwa berhutang di Bank sekarang prosesnya sangat mudah, cepat, dan semakin menggiurkan untuk modal pengembangan bisnis. Tetapi kita juga tahu resiko dari berhutang di bank berarti kita harus siap membayar cicilan plus bunga setiap bulannya. Dari situ saya berfikir, saya bekerja keras untuk menikmati hasil, bukan untuk membayar bunga bank yang kian lama kian membengkak dan mencekik kita.

Sejatinya hidup ini setiap saat adalah untuk beribadah. Bekerja juga termasuk ibadah. Ketika modal bisnis saja sudah termasuk Riba, jelas itu sudah menodai proses kita dalam beribadah kepada Allah. Justru semakin menumpuk lah dosa-dosa kita setiap saat, padahal amalan kita belum tentu bertambah setiap detiknya.

Setelah menikah, dari awal saya juga selalu menyamakan prinsip dengan suami. Alhamdulillah visi misi kami cukup seimbang. Disini saya sangat bersyukur, suami saya punya prinsip yang sama, meskipun terkadang ada rasa khawatir dalam hati kami berdua ketika membicarakan masa depan.

Bicara tentang hidup tanpa riba di usia saya yang belum menginjak 30 tahun dan dengan usia pernikahan belum genap 2 tahun mungkin terdengar lucu dan terkesan sok suci bagi sebagian orang yang sudah makan asam garam kehidupan.

Mungkin akan ada, bahkan mungkin banyak orang di sekitar saya berkata “Halah… Kamu masih muda, belum punya anak, belum banyak kebutuhan, tinggal juga masih numpang sama orang tua, jadi belum merasakan suatu kondisi terdesak dalam kebutuhan finansial dan dengan mudahnya sok-sok an menghindari riba”

Padahal, menghindari hal-hal buruk itu memang sangat sulit. Banyak sekali teman-teman seusia saya yang sudah berpenghasilan, mungkin secara tidak sadar sudah sering menjalani praktik riba. Beberapa contoh kecilnya yaitu dari mulai kredit handphone, kredit laptop, kredit motor, bahkan kredit perabotan rumah tangga dengan bank konvensional sebagai pihak ketiga, dan kebiasaan menggunakan kartu kredit untuk belanja di mall dsb.

Bagi saya, meyakinkan diri dan partner hidup (suami) adalah yang utama. Selanjutnya adalah mengajak orang-orang terdekat saya untuk sama-sama menghindari riba. Memang sulit, tapi bukan tidak mungkin. Percaya saja, ketika kita memiliki prinsip untuk menghindari Riba, diimbangi dengan bekerja keras, tidak lupa sedekah, ibadah dan berdoa dengan keras pula, insyaAllah Allah akan mencukupkan rezeki kita setiap saat. Karena rezeki setiap makhluk sudah diatur sedemikian rupa oleh Allah SWT.

Tidak dipungkiri, ujian demi ujian pasti akan ada dalam setiap perjalanan hidup. Karena setiap ujian dari Allah adalah tanda bahwa iman kita sedang diuji oleh-Nya. Tanda bahwa derajat kita sedang dinaikkan, karena Allah menyayangi kita. Toh, Allah tidak akan menguji kita diluar batas kemampuan kita. Percaya saja kita dapat melewati semuanya tanpa keluar dari jalur-Nya. InsyaAllah…

Tujuan saya menuliskan pikiran saya disini adalah sebagai pengingat jika kelak dalam perjalanan hidup di dunia, saya dan keluarga kecil saya goyah atau terdesak dalam kondisi finansial yg kritis dan berfikir untuk terjun dalam praktik riba, maka saya harus membaca tulisan ini lagi dan berfikir ulang dengan semua keputusan yang akan atau sedang diambil. Dan, siapa tahu ada seseorang yang termotivasi dan tersadar ketika membaca tulisan ini. 😊

Beberapa hari yang lalu saya juga mendengar kata-kata motivasi dari Merry Riana di sebuah video di youtube. Dalam video tersebut, Merry Riana membuka sesi motivasi dengan kalimat “Belilah sesuatu disaat kamu mampu, bukan disaat kamu mau” kalimat itu cukup menarik bagi saya dan membuat saya menonton hingga akhir video.

Memang, manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas. Maunya ini itu banyak keinginan tapi tidak berbanding lurus dengan usaha. Keinginan kita belum tentu kebutuhan kita ya. Jadi, memang harus ekstra menahan nafsu dalam hal ini. Saya juga sedang belajar πŸ˜‚ hehe… beraaaattt…. 😁

Kalimat selanjutnya juga cukup melekat di otak dan hati saya, yaitu ketika beliau berkata “Kemewahan bukan berarti kekayaan, justu kekayaan seringkali ditemukan dalam kesederhanaan”.

Untuk apa memaksakan diri bermewah-mewah ketika itu hanyalah fatamorgana.

Jadi, Bismillah aja lah dalam menjalani semuanya… Rasa syukur, kesabaran dan keikhlasan akan sangat dibutuhkan setiap saat. Juga slogan “Jangan mengeluh” dan “Jangan Menyerah pada lelah” akan selalu menghiasi perjalanan hidup saya dan suami hingga akhir nanti. 😊 InsyaAllah…

Jadi, katakan tidak pada Riba, karena sejatinya kaya adalah ketika kita bisa mengontrol nafsu, mengelola hati, pikiran, dan tindakan agar tetap di jalan-Nya.

Astaghfirullah…

Brebes, 18 September 2018

Jam 21.02

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s